Profile

Join date: Nov 9, 2022

About

Cinta Pertama, Kedua & Ketiga

Hidup tanpa sosok ibu sejak kecil, memicu Raja (Angga Yunanda) dan ke-2 kakak perempuannya wajib dirawat oleh Ayahnya, Dewa (Slamet Rahardjo), sampai dewasa. Ketika ke-2 kakaknya mengambil keputusan untuk ubah berasal dari tempat tinggal karena ikut bersama dengan para suaminya, Raja diberi amanat untuk menjaga Ayahnya yang merasa menginjak masa-masa tua.

Dewa dan Raja kesulitan untuk akur. Seringkali mereka terlibat cekcok karena berlainan pendapat. Terlebih lagi, mereka berdua sama-sama keras kepala dan sering bermain Slot Pulsa.

Ketika sudah beradu argumen, mereka tak kenal tempat. Termasuk di tempat tinggal sakit pas Dewa hendak di check kesehatannya.

Mereka adu mulut sampai Raja jengah dan meninggalkan Dewa sendiri. Saat berpisah, ternyata tiap-tiap berasal dari mereka bersua bersama dengan seorang wanita yang mengambil perhatian ke-2 mata para pria tersebut. Mereka adalah Linda (Ira Wibowo) dan Asia (Putri Marino).

Linda diketahui mengakses les menari dan pas itu terhitung Dewa memperlihatkan ketertarikannya untuk studi menari bersama dengan dengannya.

Raja yang menemani Dewa latihan menari, bersua ulang bersama dengan Asia. Dari situ, kisah cinta ke-2 orang tua mereka merasa terbangun.

Perlahan-lahan, berkat frekuensi pertemuan yang makin lama meningkat, perasaan Raja terhadap Asia merasa terbangun, begitupun sebaliknya.

Kreator film tampaknya wajib lebih berhati-hati pas menentukan keadaan pandemi sebagai latar film mereka. Kita sanggup lihat bagaimana pengeksekusian ‘Paranoia’ tidak dilaksanakan secara penuh, menjadikan latar tersebut cuma sekadar tempelan. Namun misalnya dieksekusinya berlebih, jadi akan seperti iklan sarana masyarakat. Itulah yang terjadi di ‘Cinta Pertama, Kedua & Ketiga’.

Hampir sepertiga film dihabiskan cuma untuk memperingatkan pemirsa sehingga patuh terhadap protokol kesehatan. Anjuran-anjuran dasar seperti menjaga jarak, pakai masker, mensanitasi barang, sampai dilarang duduk di bagian yang diberi sinyal “X”, banyak disinggung oleh pemeran di film ini.

Anehnya, panduan yang paling mutlak dan gawat tidak ada di film ini, yakni membersihkan tangan bersama dengan benar.

Tentu tujuannya baik sehingga penduduk tidak lalai, namun apa tidak capek mengkonsumsi Info yang mirip berulang kali?

Selain dominasi “iklan sarana masyarakat” yang kerap mengganggu, ‘Cinta Pertama, Kedua & Ketiga’ terhitung tidak begitu menonjolkan moment kehangatan yang dijanjikan.

Potret seorang anak yang terpaut 47 tahun bersama dengan bapaknya, mengharuskan mereka beradaptasi untuk sanggup mengatur rutinitas masing-masing. Adu mulut jadi perihal yang biasa kala lihat Dewa dan Raja di film ini.


C
Cinta Pertama, Kedua & Ketiga

Cinta Pertama, Kedua & Ketiga

More actions